Tweet
SEKOLAH INKLUSI, HOME CARE & VISIT TERAPI, KLINIK TUMBUH KEMBANG
www.anakspesialhebat.com
Login
News
8 Februari 2016
SLB Anugerah, Sekolah Gratis untuk Penyandang Autis
Sekolah Gratis untuk Penyandang Autis detail

8 Februari 2016
Anak Berkebutuhan Khusus Lincah Bermain Barongsai
Anak Berkebutuhan Khusus detail

15 November 2015
Mengasuh Tanpa Mengasihi
Mengasuh Tanpa Mengasihi detail

5 November 2015
Ilmuwan Kembangkan Deteksi Dini Autisme dengan Senter Kecil
Ilmuwan Kembangkan Deteksi Dini Autisme dengan Senter Kecil detail

» index berita
Others
www.autisme.or.id

ORANG TUA HARUS TAHU KEBUTUHAN ABK


24 Maret 2012

NALURI Ibu itu kuat dan tepat. Naluri itu yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak benar dalam proses tumbuh dan kembang sang anak. Ya, naluri itu pula yang mendasari Widarwati mencurahkan perhatian pada putra bungsu hingga membuatnya rela berhenti sejenak dari pekerjaannya.
Hal itu pula yang menjadi cikal bakal berdirinya Yayasan Sinar Talenta yang diketuainya sampai sekarang. “Sebenarnya simple banget. Lebih kepada naluri seorang ibu yang peduli dengan perkembangan anak. Kebetulan, anak saya yang kedua sedikit berbeda dengan anak-anak lain. Bagi saya, tidak ada yang salah. Dia hanya butuh perhatian lebih, dan terpenting ada pendekatan khusus,” papar Widarwati.
Berbekal pendidikan psikologi yang Widarwati miliki, akhirnya Februari 2005, Yayasan Sinar Talenta berdiri. “Di tahun itu, belum ada sarana pendidikan seperti ini (khusus ABK). Makanya saya berinisiatif mendirikan yayasan ini,” kenangnya.
Dikatakan Widarwati, pemahaman orang-orang mengenai anak autisme tersebut keliru. Ya, autisme yang termasuk dalam 11 kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sepuluh yang lain adalah hyperactive, down syndrome, cerebal palsy, gangguan penglihatan (low vision dan tuna netra), gangguan pendengaran, tunagrahita, anak berbakat istimewa, gangguan perilaku, gangguan kesulitan belajar, dan gangguan perkembangan lainnya.
Karena khusus, sudah semestinya penangannya juga khusus. Bukan malah melakukan “diskriminasi” terhadap anak-anak autisme tersebut.
“Selama ini, orang-orang salah mengartikan ABK. Mereka berpendapat, autisme sama dengan anak cacat. Sudah, masukkan SLB (Sekolah Luar Biasa) saja. Tapi kalau dipahami, autisme itu tidak identik dengan cacat,” lanjut Widarwati.
Ambil contoh, dirinya mengumpamakan kejadian seorang anak SMP yang sedang mengendarai sepeda motor. Anak itu terjatuh dan menderita cedera parah di kakinya. Dia dibawa ke rumah sakit dan diharuskan menjalani amputasi. Dalam kondisi demikian, anak tersebut boleh dibilang cacat. Padahal, dia pintar dan selalu rangking di kelasnya. “Apakah itu termasuk autisme, tidak kan?” katanya.
Makanya, sejak dini orangtua seharusnya peka dengan perkembangan buah hati mereka. Orangtua harus memahami apa yang menyebabkan anak-anaknya kesusahan dalam belajar. Menurut Widarwati, masalah utama adalah terlambat bicara dan akhirnya membuat susah berkomunikasi. Tapi, terkadang ada anak yang sudah bisa berbicara namun malu untuk melakukannya.
Apalagi, jika orangtuanya sendiri mengatakan kepada orang lain, bahwa anaknya tidak bisa berbicara. Itu cara yang salah. Pasalnya, anaknya tersebut akan tersugesti dengan ucapan orangtuanya.
Nah, hal-hal seperti inilah yang harusnya sudah dideteksi orangtua sejak dini. Dengan demikian, perkembangan buah hatinya tidak akan terhambat karena sudah tahu kendalanya. “Harus dipahami, gelaja autisme, hyperactive, gangguan belajar lainnya itu tidak berlaku seumur hidup. Jika kita sudah tahu cara penanganannya, masalah itu sudah terselesaikan. Hal itu hanya berlaku sementara,” tegasnya.
Tidak terasa, tujuh tahun sudah Yayasan Sinar Talenta berdiri. Sudah tujuh tahun pula yayasan ini bergelut dengan para ABK. Selama tujuh tahun itu pula, sambutan dari masyarakat Samarinda cukup baik, khususnya untuk menitipkan anak-anaknya mengikuti terapi.
Dibantu tenaga muda yang dinamis dan berenergi besar, setidaknya begitu penilaian Widarwati, yayasan yang terletak di Jalan Durian ini beroperasi. Kenapa harus terapis muda? Bukannya gejolak muda mereka masih ada. Bagaimana jika saat memberikan pelajaran, justru terjadi keributan karena mereka tidak sabar menghadapi anak-anak yang tidak biasa?
Dengan tenang, Widarwati menjelaskan alasannya. Baginya, terapis muda lebih bisa menyesuaikan diri. Bandingkan dengan terapis ‘tua’ atau yang sudah berkeluarga. Takutnya, masalah di rumah yang menyangkut keluarganya dibawa-bawa saat melakukan terapi.
“Tidak asal terima. Ada indikator-indikator yang kami tetapkan. Seperti mengikuti training dulu selama 3 bulan, biar mental mereka terasah. Lagipula, basic mereka juga mendukung. Kebanyakan lulusan FKIP atau sarjana psikologi. Sampai sekarang, kami punya 12 terapis,” ulasnya.
“Boleh dibilang, kerja seperti ini gila-gilaan ya. Artinya, yang dihadapi bukan anak biasa. Harus ekstra sabar. Nah, kalau terapis tua, capek deh..,” candanya.
Lantas, selama tujuh tahun berkiprah, tentu ada pengalaman menarik yang didapatkan. Widarwati tidak memungkiri hal itu. Kendati demikian, jika dirunut satu persatu, perempuan berjilbab itu tidak bisa menjabarkannya.
“Banyak sih, karena berinteraksi langsung dengan mereka. Menurut saya, yang menarik itu jusrtu ketika kita sudah mengatakan seorang anak sudah mengikuti terapi dan siap (masuk ke lingkungan lain di sekolah atau masyarakat), justru orangtuanya bilang harus ikut terapi lagi. Masih kurang. Ada juga, anak yang sebetulnya belum siap, malah orangtuanya memaksa anaknya sudah siap,” beber Widarwati.
“Lah, kalau begini orangtuanya belum paham dengan kondisi anak. Jangan-jangan, justru orangtuanya yang lebih ABK ketimbang anaknya,” kelakarnya.
Yang pasti, kata Widarwati, para ABK memiliki keunikan tersendiri. Mereka cenderung sensitif. Kendati demikian, para ABK memiliki kelebihan terlepas keterbatasan yang dihadapi saat ini. Tinggal bagaimana orangtua untuk memainkan perannya dengan cara berinisiatif dan melakukan strategi mencari solusi untuk tumbuh kembang buah hati. (er/wan)



Baca juga
  » 8 Februari 2016
SLB Anugerah, Sekolah Gratis untuk Penyandang Autis
Sekolah Gratis untuk Penyandang Autis

  » 8 Februari 2016
Anak Berkebutuhan Khusus Lincah Bermain Barongsai
Anak Berkebutuhan Khusus

  » 15 November 2015
Mengasuh Tanpa Mengasihi
Mengasuh Tanpa Mengasihi

  » 5 November 2015
Ilmuwan Kembangkan Deteksi Dini Autisme dengan Senter Kecil
Ilmuwan Kembangkan Deteksi Dini Autisme dengan Senter Kecil

  » 26 Januari 2015
Penyebab Stroke pada Anak dan Remaja
Penyebab Stroke pada Anak dan Remaja

Information
Search
Search:

Clinic & School | Home Visit Terapi | Training
Office : JL. Masjid No. 42 Pesanggrahan Jakarta Selatan
Branch : Graha Taman Elang Blok I No. 5 Tangerang
Telp : ( 021 ) 94680818  / 0817 646 1878 / 0813 8758 4008 
© 2011 www.anakspesialhebat.com


Toko Online